
Petrus Malo Lede menuruni jalur kerikil di menuju rumahnya di desa Pandua Tana. Dua ekor kambing sudah sedang mengunyah rumput di depan halamannya. Satu individu adalah betina indukannya, satunya lagi adalah jantan kecil anaknya.
Petrus senang melihat kambing itu tumbuh dengan sehat. Beberapa bulan lalu, indukannya melahirkan dan masih menyusu. “Ini kambing bantuan dari teman-teman BangKIT itu,” katanya memecah terik pada pertengahan Mei 2025.
BangKIT adalah program Pengembangan Penghidupan Masyarakat yang Inklusif di Perdesaan Kawasan Timur Indonesia (BangKIT) dari Yayasan BaKTI. Ketika program ini bergulir tahun 2024, mereka berkumpul di balai desa dan rumah warga.
BangKIT menginginkan sistem perencanaan desa untuk penghidupan melibatkan semua warga. Mereka mendengar kebutuhan dan bagaimana warga melihat potensi desa. Melkianus Dangnga Ngara, sekretaris desa Pandua Tana, terkesan dengan pendekatan yang dilakukan BangKIT.
Selama ini kata Melkianus, program perencanaan desa dilakukan melalui Musrembang dan hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Pendekatan BangKITyang memberikan ruang besar dan mendengarkan keinginan warga, ternyata menjadi hal paling penting dan mendasar. “Kami kemudian mendukung keinginan warga dengan beternak kambing. Ini kemauan warga, jadinya mereka melakukannya dengan senang. Bukan paksaan,” katanya.
“Bagi kami, ternak kambing ini akan menjadi mata pencaharian alternatif warga. Apalagi sistem kelompok yang dilakukan secara bergulir jika kambing telah memiliki anak.”
Pada Oktober 2024, BangKIT memberikan lima ekor kambing betina ke kelompok ternak ini. Masing-masing anggota memelihara satu indukan dan kemudian mencari pejantan untuk dikawinkan.
Kelompok dalam sistem ternak ini, akan memberikan kesempatan yang sama pada setiap anggota. Jika bantuan atau stimulant hanya diberikan oleh satu orang, maka penerima manfaatnya hanya akan ada satu keluarga saja. “Jadi benar, kelompok bikin orang saling bantu. Lima ekor pertama, jadi tanggung akan jadi tanggung jawab bersama,” kata Melkianus.

Petrus membenarkan pernyataan itu. Kambing yang dipelihara setiap anggota kelompok akan selalu diperhatikan. Setiap kambing, akan menjadi tanggung jawab besar, karena itu akan berdampak pada anggota lainnya. “Kalau kambing saya mati, mata kesempatan bergulirnya akan lebih lama, dan anggota lainnya akan kehilangan kesempatan,” katanya.
Anakan kambing Petrus adalah yang pertama dari hasil bantuan kelompok ini. “Pelihara kambing tidak susah. Pakannya banyak dan tidak perlu perawatan khusus,” katanya.
Meski orang Sumba bukan pemakan kambing, tetapi perkembangan kota di kabupaten Sumba Barat Daya, mulai memperlihatkan gejolak pertumbuhan ekonomi yang memadai. Warung-warung satu kambing mulai terlihat di pinggiran jalan utama kota, seperti di Tambolaka dan Waikabubak.
Kambing beranak dua kali dalam setahun. Dan sudah memiliki harga jual saat usia kambing mencapai 6 bulan. Harga kambing di Sumba berkisar antara 800 ribu hingga 2 juta rupiah. “Kalau kambing melahirkan betina, maka itu akan digilir ke anggota kelompok lain. Kalau anaknya jantan, itu bisa dipelihara untuk dijadikan pejantan selanjutnya,” kata Petrus.
Bagi Petrus, beternak kambing memiliki banyak keuntungan. Kotorannya, bisa digunakan untuk pupuk kompos. “Karena baru dua ekor, kotoran belum banyak. Tapi itu kan cukup untuk tanaman sayuran di dekat rumah,” lanjutnya.


Pakan Ternak Babi
Selain kambing, di desa lain ada kelompok Melati yang membuat pakan ternak babi. Di Sumba, kebutuhan babi cukup tinggi, selain untuk konsumsi, juga digunakan dalam berbagai ritual. Masuk rumah baru memotong babi, kelahiran juga memerlukan babi, kematian pun demikian.
Pakan babi ini menjadi sangat penting karena metodenya tidak lagi merebus atau memasak. Melainkan pakan fermentasi dengan campuran EM4, mineral 10, gula pasir dan juga konsentrat.
Kelompok pakan ini digerakkan oleh perempuan. Mereka berkumpul di satu rumah dan membawa bahan pakan lalu mencampurnya secara bersama. Ada daun keladi, buah pepaya, ubi jalar, batang pisang, labu, hingga buah nangka.
Bahan itu dicincang kecil dan didiamkan selama selama dua hingga tiga hari. Setelah itu, bahan pakan siap digunakan. “Kalau sudah bikin pakan fermentasi, tergantung banyaknya persedian, itu bisa dipakai sampai seminggu,” kata Kristina Bulu.

Fermentasi pakan babi ini sangat membantu warga. Karena menghemat waktu. Jika tanpa pakan fermentasi, setiap rumah tangga yang memelihara babi akan memasak juga setiap hari. Jika untuk makan babi pagi hari, maka bahan baku, dimasak di dalam panci besar pada malam hari. “Jadi kalau malam, sudah masak untuk orang rumah makan. Terus masak lagi untuk babi,” lanjut Kristina.
Tahun 2024, ketika BangKIT mengenalkan metode fermentasi, semua warga begitu antusias. “Ah ini kenapa kami tidak tahu dari dulu. Kan sekarang enak-enak toh, tidak banyak capek,” kata Margaretha Dede Ngara, ketua kelompok Melati.
Margaretha juga bilang, singkatnya waktu pengerjaan pakan fermentasi dengan ketahanan yang lebih lama, membuat hubungan warga makin erat. Mereka bisa saja berkumpul pada pagi hari dan sore tanpa harus pulang memasak makanan babi.
Keunggulan lain, dari pakan fermentasi adalah kotoran babi menjadi tidak begitu busuk. Pakan ini dipercaya bisa mempercepat pertumbuhan babi karena babi makannya lebih lahap. Pakan yang dimasak, hanya bisa bertahan sehari, karena bahan baku menjadi lembek.