Perempuan, Laut, dan Abon

Di sebuah dapur, lima perempuan duduk melantai di rumah batu yang beralaskan tikar. Di situ, ada bawang merah dan putih, butiran ketumbar, lada, cabe rawit, jeruk nipis, serta santan kental yang baru saja diparut dari kelapa tua. 

Asap dari tungku berbahan kayu mengepul di atas langit-langit atap, sementara wajan besar di atasnya mulai mengeluarkan aroma tumisan rempah. Di dapur berukuran sekitar empat meter persegi itulah, abon ikan khas Pulau Nama Lena dibuat dengan penuh ketekunan dan semangat gotong royong.

Perempuan-perempuan ini adalah anggota kelompok pengolah hasil laut yang terbentuk usai mengikuti pelatihan program BangKIT di Kantor Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, pada tahun 2024. 

Desa Nama Lena adalah desa yang belum teraliri listrik. Tangkapan ikan para nelayan yang tidak terjual pun seringkali membusuk karena tidak adanya mesin pendingin. Karena itu, menjadikannya olahan abon dan ikan asin pun adalah salah satu upaya memperpanjang umur simpan ikan tersebut. Itulah kenapa salah satu upaya penghidupan ini muncul dalam perencanaan Desa Nama Lena pada November 2023 yang difasilitasi oleh Yayasan BaKTI melalui Program Pengembangan Penghidupan Masyarakat yang Inklusif di Perdesaan Kawasan Timur Indonesia (BangKIT).

Tantangan penghidupan yang dihadapi masyarakat mestilah menjadi pemikiran bersama untuk ditemukan solusinya bersama-sama pula. Upaya pengolahan abon ikan yang selama ini dijalankan sendiri-sendiri oleh masyarakat pun menjadi salah satu upaya penghidupan yang disepakati perlu untuk dikembangkan. Karena itulah pelatihan teknis pengolahan dan pemasaran abon ikan pun dilaksanakan atas usulan dari masyarakat sendiri melalui perencanaan desa yang melibatkan mereka.

Jamia Kalderak adalah satu dari lima perempuan yang paling mengolah kelebihan tangkapan ikan menjadi ikan asin dan abon setelah mengikuti pelatihan.

Katong (kita) sudah ikut pelatihan tiga kali. Yang diajarkan itu cara bikin abon biar lebih gurih dan bekerja secara kelompok,” cerita Jamia.

Tangan ibu Jamia cekatan, tak henti mengaduk abon di dalam wajan, sementara matanya sesekali memantau tingkat kekeringan abon yang sedang dimasak. Ikan yang dibelinya semalam kini diolah menjadi abon. “Lama mengaduknya karena ada santannya,” ujarnya.

Jamia mengaku bahwa sebelum mengikuti pelatihan, ia sudah lama membuat abon ikan secara mandiri. Namun kualitas hasil produksinya belum sebaik sekarang. Dulu, abon warnanya cokelat gelap, agak berminyak juga. Bungkusnya juga cuma plastik bening biasa. 

Setelah pelatihan, ia mulai mengerti teknik mengolah abon yang lebih tepat dan juga cara pengemasan yang layak agar produknya lebih menarik dan tahan lama.

Kini, abon ikan produksinya terlihat lebih kering, warnanya cokelat terang, dan terasa lebih gurih. Jamia juga mulai menggunakan kemasan plastik ziplock. Meski teknik dasarnya sama, menurutnya yang membedakan adalah perhatian pada detail rasa dan tampilan, serta kerja sama tim yang saling mendukung.

Berangkat dari Dapur Sendiri

Sudah sepuluh tahun, Jamia membuat abon ikan. Ia belajar sendiri dengan berbekal naluri memasak. Ikan yang diolah pun bervariasi, tergantung hasil tangkapan para nelayan di kampungnya. Ada ikan katombo, layang, ikan terbang, hingga ikan batu-batu.

“Yang penting ikan ada saja,” ujarnya tersenyum.

Ikan itu ia beli dari nelayan desa dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15 ribu per tiga ekor, hingga 60 ribu rupiah per kilogram. Biasanya, ia membeli sekitar 20 ekor untuk diolah bersama kelompoknya.

Sebelum bekerja secara kelompok, Jamia mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari memarut kelapa, menumbuk bumbu, hingga mengaduk abon selama berjam-jam. Ia juga sendiri yang memasarkan hasil produksinya di kampung.

“Kalau di kampung tidak habis, katong  bawa ke Waru atau Geser,” jelasnya. 

Satu ekor ikan besar bisa menghasilkan sekitar enam sampai tujuh bungkus abon. Dengan harga jual 25 ribu rupiah per bungkus, ia bisa meraup penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur dan menyekolahkan anak-anaknya.

Menyeberang Laut Demi Jualan

Jamia bukan hanya pengolah hasil laut, tapi juga menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga, ia harus terus memproduksi abon dan ikan asin setiap hari. Karena, hanya itu pemasukan utama keluarganya.  

Seminggu sekali, ia berangkat dari Pulau Nama Lena ke Kecamatan Teluk Waru. Untuk menyeberang, Jamia harus naik perahu sewaan menuju ke Desa Belis dengan ongkos 100 ribu rupiah pulang-pergi. “Karung penuh (ikan asin) baru katong bisa menyeberang,” tambahnya. 

Setelah tiba di daratan, ia menyewa mobil lagi menuju Desa Airkasar di Kecamatan Tutuk Tolu dengan ongkos 200 ribu rupiah. Di sana, ia menjual langsung dan menitipkan produknya sekitar enam sampai tujuh bungkus di sebuah toko. 

“Kalau abon yang dititipkan di toko habis, mereka langsung hubungi beta (saya),” kata Jamia.

Kadang ia membawa 20 bungkus abon sekali jalan. Selain ke Airkasar, Jamia juga rutin ke Pulau Geser. “Kalau tidak habis dijual di kampung, beta bawa ke luar,” ungkap ibu enam anak ini.

Penjualan abon ikan miliknya makin dikenal, bahkan sesekali ada pembeli dari Kecamatan Bula, ibu kota Kabupaten Seram Bagian Timur, yang datang langsung untuk membeli.

Bisa Menyekolahkan Anak

Jamia tinggal di Pulau Nama Lena, atau yang dikenal juga dengan sebutan Pulau Parang. Pulau kecil ini berada di sebelah tenggara Laut Seram, Provinsi Maluku. Desa ini dihuni sekitar 214 jiwa. Untuk mencapai pulau itu, orang harus menyeberang dari Desa Belis, Kecamatan Teluk Waru dengan waktu tempuh sekitar 45 menit menggunakan perahu.

Di pulau yang minim fasilitas dan jauh dari pusat kabupaten itulah, Jamia membangun kehidupannya. Dia menjadi tulang punggung keluarga dari hasil jualan abon dan olahan ikan asin. Sehingga mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Dengan penghasilan dari abon sekitar 800 ribu rupiah per bulan, Jamia masih merasa perlu menambah sumber pendapatan. Kemudian ia pun mengolah ikan asin supaya usahanya bertambah. Ia membeli bahan baku ikan dari nelayan, lalu mengolahnya sendiri. Ikan asin dicuci Jamia, lalu dibelah, dan diberi garam. Selanjutnya dijemur selama tiga hari di bawah terik matahari. Tetapi, kalau banyak ikan yang ditangkap nelayan, lalu tak punya modal awal, Jamia terpaksa mengutang. Nanti ikan asinnya habis terjual barulah dia melunasinya. 

“Kalau matahari bagus, tiga hari sudah kering,” ujarnya. “Beta jual tiga ekor 10 ribu rupiah”. 

Dalam sebulan, dari ikan asin saja, ia bisa mendapatkan pemasukan 1,8 juta rupiah. Ia menjualnya di kampung dan di bawa ke luar Pulau Nama Lena.

Dengan penghasilan tersebut, Jamia kini bisa membiayai dua anak perempuannya yang masih sekolah. Satu anak duduk di kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Teluk Waru, dan satu lagi kuliah semester lima di Kecamatan Bula. Semua biaya sekolah mereka ditanggung dari hasil jerih payah sang ibu.

Beta kerja begini, tapi bisa sekolahkan dua anak,” katanya dengan suara sedikit bergetar.

Harapan Perempuan Nama Lena

Jamia bukan hanya sosok ibu tangguh di kampungnya. Tetapi juga menjadi simbol kekuatan bagi perempuan di pulau-pulau kecil yang sering terabaikan dari pembangunan. Di tengah keterbatasan yang tidak ada listrik dan sulitnya infrastruktur, ia terus menunjukkan semangatnya. 

Jamia terus berinovasi agar bisa tumbuh dari dapur kecil,  panci, dan tungku yang setiap hari menyala.

Pelatihan dari program BangKIT memberinya semangat baru. Kini, ia tidak lagi sendiri bekerja, tapi ada lima perempuan bersamanya. Saling berbagi tugas dan memberikan semangat. Dengan berpartisipasi pada pameran yang digelar Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur pada 3 Juni 2025, ia ingin produk abon miliknya dikenal dan dijual lebih luas ke luar Pulau Nama Lena.

“Masih manual pengelolaannya, sebungkus abon diisi tiga sendok nasi,” kata Jamia sambil menjelaskan takaran produknya. 

Ia berharap ada dukungan dari pemerintah daerah, khususnya dalam hal pemasaran, agar produk abon yang mereka buat bisa menembus pasar yang lebih luas.

Tak hanya itu, Jamia dan kelompoknya juga menggantungkan harapan kepada para nelayan, agar pasokan ikan tetap terjaga sehingga produksi abon dan ikan asinnya bisa terus berjalan.